Menanamlah
Primary tabs
Kapsul: Selagi kita muda belajar dan menanamlah, di masa tua kita memahami dan menuai hasilnya.
Tiga Ekor Ikan
Di satu danau ada tiga ekor ikan besar. Walaupun mereka sahabat karib, tapi masing-masing memiliki sifat yang berbeda.
Ikan pertama sangat bijaksana. Ia senantiasa belajar dari pengalaman, dalam pikiran bawah sadarnya terpatri: “pengalaman merupakan guru terbaik dalam kehidupan ini”. Ia akan selalu berpikir matang sebelum melakukan sesuatu. Ia selalu memperkenalkan nilai-nilai kejujuran, empati kepada sesama, dan senantiasa sadar betapa pentingnya menanam perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak pernah berhenti untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, sentuhan sikapnya terletak pada nilai-nilai universal tentang perbuatan dan perilaku luhur sehingga dengan cepat menyentuh hati sahabatnya.
Ikan kedua sangat pintar. Ia mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan, alam, sosial, dan lain sebagainya sehingga ia pun mampu membuat keputusan cepat bila dibutuhkan. Bila ia mendapat kesulitan, dia hadapi dengan sabar, baginya selalu mudah untuk mengatasi setiap masalah dan selalu memberikan solusi terbaik atas permasalahan sendiri maupun kesulitan dari sahabat atau pihak lainnya.
Ikan ketiga berisifat fatalistik. Ia percaya akan nasib. Apa yang harus terjadi, pasti akan terjadi. Ia pasrah menerima apa adanya yang penting kerja dan bekerja, ia tidak pernah membuat rencana kerja, apalagi mengevaluasi hasil kerjanya. Itulah keyakinannya yang mantap.
Suatu malam, secara tak sengaja ikan bijaksana mendengar percakapan dua orang nelayan. Mereka berkata: “Lihatlah ikan yang besar dan montok itu, pasti banyak ikan seperti itu dalam danau ini, ayo kita tangkap besok”. Mereka pun sepakat lalu pergi meninggalkan danau.
Dengan penuh rasa takut, ikan bijaksana itu menemui sahabatnya. Dengan terengah-engah sembari menarik napas, ia cepat-cepat memberitahukan rencana dari para nelayan itu. Setelah mendengar penyampaian dari ikan bijaksana, secara bersama kedua ikan lainnya berucap: “Apa yang harus kita lakukan?”, dengan rada suara cemas.
Setelah berpikir beberapa lama, ikan bijaksana menjawab: “Sahabatku, kita dapat meninggalkan tempat ini segera, dengan berenang melalui sebuah saluran, kita dapat mencapai tempat baru, dimana kita bisa selamat di sana”.
Memikirkan hal itu, ikan pintar berkata: “Mengapa kita harus pergi sekarang? Kita tunggu saja sampai para nelayan itu menjalankan rencananya itu, aku pasti akan mendapatkan akal untuk melepaskan diri”.
Sementara ikan yang percaya pada nasib, mulai berkata pelan-pelan: “Aku selama ini tinggal di danau ini, bagaimana aku dapat meninggalkan rumahku sekarang? Apapun yang terjadi pastilah akan terjadi, kerena itu aku akan tetap disini”.
Ikan bijaksana segera meninggalkan danau tanpa teman-temannya. Sendirian ia menyelam melalui saluran menuju rumah yang baru, “Akhirnya aku selamat”, ia menarik nafas lega.
Besoknya pagi-pagi sekali, dua orang nelayan menyebarkan jala kedalam air. Banyak ikan terperangkap di dalamnya dan berjuang tanpa daya. Kedua ikan itu juga tertangkap.
Dengan cepat, ikan yang pintar itu memikirkan rencana untuk melepaskan diri. Dengan berpura-pura mati, ia tergolek diam dalam jala. “Coba perhatikan ikan itu mati”, teriak salah seorang sambil melemparkannya kembali ke dalam danau. “Akhirnya aku selamat”, ikan pintar itu bergumam.
Ikan ketiga yang percaya nasib tetap terperangkap dalam jala. Ia mulai meng-geliat-geliat untuk melepaskan diri, namun tetap gagal. “Ikan yang satu ini sangat menyulitkan”, gerutu salah seorang nelayan. Ia segera menangkapnya dan dengan cepat memotongnya.
Pesan:
Nasib kita tidak akan berubah kalau kita sendiri tidak berusaha untuk merubah nasib itu sendiri, karena pada dasarnya nasib ditentukan oleh diri kita sendiri dengan usaha dan sisanya barupa anugrah Tuhan. Artinya kalau kita ingin menunai hasil atau pahala yang baik, memperoleh kesenangan dan memiliki artha yang cukup untuk bisa hidup bahagia, damai dan sejaetera di masa tua, maka semasih muda kita mutlak menanam nilai-nilai: kebaikan, berprilaku jujur, berpikir panjang, suka memolong, atau beraktivitas dan berkarya sesuai dengan ajaran kebenaran (dharma), agama, hukum, dan aturan tertentu . Tidak cukup sampai disitu kitapun senantiasa belajar dari berbagai pengalaman hidup dan selalu menuntut ilmu pengetahuan dan tehnologi agar kita mampu memberi jalan atau solusi terbaik demi keadilan dan kedamaian bersama, bahkan menyatu dengannya (moksa).
Banyak orang berkata bahwa masa muda adalah sebuah masa yang paling indah, sebuah masa dimana kita bebas untuk mengeksplorasi diri kita untuk menemukan jati diri kita yang sebenarnya. Masa muda yang dijalankan dengan sebaik-baiknya, akan memberikan dampak positif pada masa tua. Sebaliknya masa muda yang dijalankan dengan asal-asalan tanpa aturan dan tujuan hidup yang jelas, hanya akan berujung pada penyesalan di masa tua.
Ingatlah; kita baru bisa menerima pahala baik kalau kita mengawalinya dengan memberi. Pemberian berupa uang dan makanan nilainya lebih rendah dibandingkan dengan melalui kerja dengan hasil yang baik bahkan yang tertinggi nilainya adalah memberi ketrampilan, ilmu pengetahuan dan petuah atau wacana mulia.
Apapun sebutan untuk saya itu adalah hak seseorang, apakah saya itu sombong, baik dan lain sebagainya. Demikian pula saya punya hak untuk tetap sehat, segar, bahkan bugar. Dan menilai diri saya sendiri bahwa saya bisa membuktikan antara apa yang saya pikirkan, katakan, dan perbuat adalah sejalan. Artinya pikiran saya sehat, saya bisa bicara sehat, dan melakukan aktivitas agar diri saya ini sehat, segar, dan bugar. Memang ini tidak mudah (kalau tidak menantang, kan tidak mungkin dilakukan), tapi inilah komitmen dari saya bahwa agar saya tetap dan selalu sehat, segar, dan bugar maka saya harus bangun pukul 5 pagi, dengan aktivitas: Joging, Meditasi, Yoga, Membersihkan halaman rumah dan saluran got serta menyiram bunga, mandi pagi, sembahyang, sarapan pagi, lalu mohon ijin berangkat kerja sama istri (karena kedua orang tua saya sudah tidak ada). Di tempat kerja saya selalu beraktivitas positif mulai dari pikiran, perkataan, dan perbuatan, tentu dengan harapan bisa memberikan hasil yang ultima kepada sesama. Disela-sela aktivitas saya seharian saya pun harus berolahraga rutin 3-4 kali dalam seminggu. Tidak cukup sampai disitu, saya juga harus mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi dan dilaksanakan secara teratur, kemudian saya harus melakukan aktivitas hubungan intim dengan istri secara rutin agar tetap sehat, segar, dan bugar. Hal yang ketiga ini sering dilupakan oleh kebanyakan orang. Semua yang saya sampaikan ini juga disertai dengan doa dan atau sembahyang tiga kali dalam sehari. Tapi yang jelas dan sering saya katakan bahwa sudah 20 tahun saya bekerja, saya tidak pernah terlambat dan sakit. Sekali lagi anda bisa menilainya. Oh ya, orang takut itu pasti tak berguna (ini juga pendapat dan anda pun boleh membantahnya).













