Galungan
Primary tabs
OM Awighnam astu namo sidham, OM Sidhirastu tat astu astu svaha, OM Anobadrah kratavo yantu visvatah.
OM Swastyastu
Angayubagia, atas swecan Hyang Widhi, kita masih bisa berkumpul bersama ditempat yang suci ini dalam keadaan sehat. Dalam suasana yang indah, hening, dan suci ini, kita bisa menjalankan bhakti untuk memuja ke Maha Kuasa-Nya.
Sebelum saya mewacanakan ajaran dharma berjudul: Mengaplikasikan Makna Galungan Dalam Kehidupan Sehari-hari. Ijinkan saya untuk mendendangkan beberapa syahir indah:
Ketika penjor kedamaian mulai di kibarkan...
Kidung-kidung suci mulai bergema...
Semerbak bunga mewangikan jagat...
Harum kepulan asap dupa membalut raga...
Percikan tirta menyejukan jiwa...
Kemenangan dharma telah tiba...
Menerangkan hati dan mensucikan pikiran...
Semoga kedamaian selalu tercipta di muka bumi ini.
Saya yakin umat sudah tahu arti Galungan. Namun perkenanlah saya menjelaskan kembali. Secara harfiah Galungan berasal dari kata galung yang berarti pergulatan atau perjuangan. Jadi Galungan bermakna perjuangan memenangkan dharma. Lebih dalam lagi bahwa hari raya Galungan adalah perlambang perjuangan antara yang benar melawan yang tidak benar. Pada hari ini Hyang Widhi berkenan turun diiringi oleh para Dewa dan Pitara ke dunia.
Bagi umat Hindu di Bali, Galungan adalah suatu upacara sakral, bisa memberikan kekuatan spiritual agar kita mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari dharma. Olehnya di Bali, Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan oleh umat Hindu di Bali untuk menghaturkan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi, karena berkat tapa-Nya-lah tercipta dunia ini dengan segala isinya.
Di India, Toraja, Sidrap, atau daerah lain, bisa saja umat Hindu merayakan Galungan di luar hari Buda Kliwon Dungulan. Tapi yang jelas, pasti ada hari lain yang bisa dipergunakan untuk memperingati kemenangan dharma melawan adharma.
Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan, hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya dibicarakan, tetapi dilaksanakan.
Terkait hari raya Galungan, saya mencoba mengutip sloka 7 dalam Bhagawadgita Bab IV yang bisa kita pakai sebagai acuan tentang kejayaan Dharma, yakni:
Yada-yada hi dharmasya, glanir bhavati bharata,
Abhyutthanam adharmasya, tadatmanam srjamy aham.
Artinya:
Sesungguhnya mana kala dharma berkurang kekuasaannya dan adharma hendak merajalela, Oh Arjuna, saat itu, maka aku ciptakan diriku sendiri.
Lebih lanjut, dalam Bhagawadgita Bab IV. Sloka 8, disebutkan:
Kelahiran menjadi manusia pendek dan cepat keadaannya itu, tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh; oleh karena itu, gunakanlah sebaik-baiknya menjadi manusia ini untuk melakukan dharma, yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai surga.
Patutlah disyukuri bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai manusia yang sempurna. Senantiasalah bersyukur, karena bersyukur merupakan modal awal dan dasar dari sebuah kemenangan.
Hidup adalah pilihan. Manusia diharuskan untuk memilih; apakah dalam hidup sehari-hari kita akan berbuat Dharma atau Adharma. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa menjelma menjadi manusia dengan kelebihan sabda, bayu dan idep merupakan suatu pahala keberuntungan dan sekaligus merupakan suatu keutamaan bagi manusia untuk berbuat kebajikan (Dharma).
Dalam kitab Sarasamuscaya sloka 11 disebutkan:
Itulah sebabnya hamba, melambai-lambai; berseru-seru memberi ingat; kata hamba: dalam mencari artha dan kama itu hendaklah selalu dialasi dharma; jangan sekali-kali bertindak bertentangan dengan dharma, demikianlah kata hamba; namun demikian, tidak ada yang memperhatikannya; oleh karena katanya, adalah sukar berbuat atau bertindak berdasarkan dharma, apa gerangan sebabnya?
Ijinkan saya untuk mengupas baris kalimat diatas; adalah sukar berbuat atau bertindak berdasarkan dharma, apa sebabnya? Karena musuh terberat manusia berasal dari dalam diri, musuh dari luar jauh lebih mudah dikalahkan.
Dalam ajaran dharma dikatakan bahwa manusia mempunyai enam musuh yang harus dihancurkan. Keenam musuh dalam diri manusia dikenal dengan nama SADRIPU, yakni: pertama Kama (hawa nafsu); kedua Lobha (tamak atau rakus); ketiga Kroda (marah); keempat Moha (bingung); kelima Mada (mabuk), dan keenam adalah Matsarya (iri hati).
Kali ini, saya hanya mewacanakan musuh pertama, yakni: Kama (hawa nafsu). Yakinlah bahwa bila kita bisa mengalahkan musuh yang satu ini, maka kelima musuh lainnya akan mampu pula kita musnahkan. Ketahuilah bahwa manakala kita bisa mengendalikan pikiran dengan baik, maka kita sudah mampu mengatasi nafsu. Langkah terpenting untuk menundukkan hawa nafsu adalah membebaskan diri dari proses berpikir. Karena pikiran dan proses berpikir merupakan wujud manas. Dalam ajaran Trikaya Parisuda, pikiran harus selalu dituntun agar mampu berpikir jernih dan suci. Hawa nafsu timbul bermula dari pikiran, sebab pikiran selalu digoda oleh Asubakarma.
Tatkala manusia sudah dikuasai oleh hawa nafsu, sulit baginya untuk mengetahui perkataan benar. Dia tidak bisa lagi mengenal perbuatan yang terlarang. Namun jika seseorang dapat menghilangkan atau mengekang hawa nafsu, maka iapun akan disegani, dipuji dan dihormati baik oleh kawan maupun lawan sehingga hidupnya akan selalu selamat.
Sebenarnya yang melindungi umat manusia dari kehancuran adalah Dharma. Dalam Bhagawad Gita, disebutkan: “Siapapun dia, jika mampu mengendalikan keinginan dan amarahnya, ia telah menaklukan raga dan dwesha, ia Kucintai.
Berikut ini, subhakarma yang mesti dilakukan setiap hari agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu, yakni:
Pertama: Bangun pagi paling lambat pukul 05.00, lakukanlah japas Gayatri Mantram, minimal dinyanyikan sebanyak 9 kali. Dengan harapan agar rohani kita menjadi segar dan sehat.
Kedua: Lakukan YOGA. Yoga tidak hanya terbatas pada latihan-latihan fisik (badan) saja, tetapi juga untuk pikiran dan jiwa. Yoga adalah suatu metode untuk mencapai keselarasan tubuh, pikiran, dan jiwa yang baik dan lengkap. Maharsi Patanjali memperkenalkan Yoga ribuan tahun yang lalu kepada umat manusia agar manusia senantiasa hidup bahagia dan mengenal diri masing-masing.
Ketiga: Sembahyang Tri Sandya dan berdoa, mohon kepada Hyang Widhi dan leluhur agar kita dapat menjalan tugas dengan baik di kantor atau bagi para siswa (i) dapat mengikuti pendidikan dengan baik, bahkan kita bisa memberi makna dalam menjalani hidup ini.
Keempat: Masih banyak subhakarma yang bisa kita investasikan setiap hari, bahkan dalam hal pengendailkan hawa nafsu bisa ditempuh melalui jalan puasa.
Puasa bagi umat Hindu tidak sekedar untuk bisa menahan rasa lapar dan haus tetapi tujuan terpentingnya adalah pengendalian diri, pikiran dan hawa nafsu. Puasa bisa dilakukan pada hari-hari tertentu, seperti: di hari Tilem, hari kesebelas setelah Tilem,hari Purnama, hari kesebelas setelah Purnama, hari Raya Siwa Ratri, hari Raya Nyepi. Bisa juga melakukan puasa memutih tiap hari senin dan kamis, dll. Tujuannya sudah jelas adalah untuk mengendalikan hawa nafsu, pikiran, dan panca indrya kita.
Sesungguhnya Subhakarma inilah yang selalu melindungi kita dalam kehidupan ini, apalagi kita sebagai umat Hindu mempunyai Srada (yakin dan percaya) kepada kebesaran dan kemaha kuasaan Hyang Widhi.
Yakinlah; tatkala kita mampu mengalahkan kama, pastilah musuh-musuh dalam diri kita yang lain seperti Lobha, Kroda, Moha, Mada, dan Matsarya mampu kita manage dengan baik.
Seperti disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 12:
Pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, seharusnya dharma dilakukan terlebih dahulu; tak tersangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti; takkan ada artinya, manakala artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.
Sesungguhnya, keberuntungan dan keutamaan menjadi manusia bukanlah terletak pada ketampanan dalam bentuk fisik, bukan pula karena kecerdasan yang dimilikinya, tetapi terletak pada kemampuan manusia untuk berbuat Dharma.Manakala kita konsisten menjalankan dharma dalam kehihupan sehari-hari, dijamin bahwa tidak saja artha dan kama bahkan tujuan utama kita akan didapat yakni moksa.
Satu hari sembelum galungan disebut hari penampahan. Pada hari penampahan galungan umat hindu di Bali biasanya memotong hewan babi. Mengapa hewan babi? Banyak orang berkata bahwa daging babi itu enak di makan. Tapi jangan lupa bahwa babi memiliki sifat buruk yakni rakus dan malas. Saat dia tidak diberi makan, maka dia akan berteriak. Mengapa babi kalau lapar berteriak? Ya, karena hewan babi itu tidak bisa mengendalikan sifat rakusnya. Bagaimana kalau ada manusia yang tidak bisa mengendalikan rasa laparnya? Sudah pasti diponis bahwa dia tidak bisa memaknai Hari Raya Galungan.
Artinya di hari penampahan, hendaknya segala sifat buruk seperti rakus, malas, iri hati, congkak, dan tamak harus dihilangkan. Ingat pula bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan awidya (kegelapan), memiliki sifat murka, seperti; iri hati, congkak, dan angkara. Semua sifat ini disimbulkan sebagai sang Kala Tiga yang diberi gelar sang Bhuta Galungan, sang Butha Dungulan, dan sang Bhuta Amangkurat. Makanya, bila hendak menyebut Tuhan, jangan menyebut Sang Hyang Widhi Wasa, cukup Hyang Widhi saja.
Ingatlah bahwa: kekuatan suci oleh umat Hindu dibangun dengan abhayakala, yaitu upacara penyucian diri dari kegelapan. Olehnya, setelah selesai persembahyangan Galungan di Pura, hendaknya umat Hindu di rumah masing-masing melakukan yoga, meditasi, atau semadi. Mohon karunia dari Hyang Widhi.
Kemudian besoknya, pada hari Kamis Umanis Dungulan, umat bersama-sama menikmati yadnya sesa, yaitu karunia Guru Sejati dengan melakukan pensucian dan persembahyangan di rumah masing-masing pada waktu fajar baru menyingsing dengan air wangi (kumkuman) dan air suci (tirta). Selesai sembahyang pagi di rumah. Umat bersama-sama kunjung mengunjungi, beramah tanah, saling mendoakan keselamatan. Tujuannya, agar umat sedharma, menjadi lebih baik dalam menjalankan kebenaran (satya), damai (shanti), kasih sayang (prema), dan tidak menyakiti (ahimsa).
Hendaknya di hari rahianan jagat Galungan, umat berlomba Ngabe Mupu. Membawa dan mempersembahkan hasil bumi kepada Hyang Widhi dengan penuh kesucian dan ketulusan hati, memohon kebahagiaan hidup agar dapat menjauhkan diri dari awidya (kegelapan).
Pesan moral:
Hidup hanya sekali dan amat singkat gunakanlah dengan sebaik-baiknya.
Tambah dan tamanlah terus subhakarma
Kurangi perbuatan adharma dan ahimsa
Bagilah prema
Tingkatkan terus satya dan dharma
Kibarkan penjor kedamaian (shanti)
Nyanyikan Gayatri Mantram
Nyalakan terus jyoti
Tebarkan vibuti.
Demikianlah wacana dharma ini saya sampaikan semoga bermanfaat. Bila ada tutur kata yang salah, mohon kiranya dapat dimaklumi.
OM Santhi, Santhi, Santhi OM













